19.1.13

Jurus Desain Logo




Logo merupakan suatu bentuk gambar atau sekedar sketsa dengan arti tertentu, dan mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, perkumpulan, produk, negara, dan hal-hal lainnya yang dianggap membutuhkan hal yang singkat dan mudah diingat sebagai ganti dari nama sebenarnya.
Peranan sebuah logo begitu penting bagi sebuah merek produk ataupun perusahaan/lembaga. Logo adalah identitas yang melambangkan si pemilik identitas, sejauh mana sebuah logo mampu menjelaskan karakter atau ciri khas pemiliknya sangat tergantung kepada imajinasi, kreatifitas dan kemampuan teknis pembuatnya.



Sebuah logo yang berfungsi dengan baik tidak hanya mampu menampilkan keindahan secara fisik namun mampu menjelaskan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan melalui tampilan yang praktis dan mudah dipahami. Sebagai contoh, sebuah logo bergambar ular tidak akan bekerja jika perusahaan anda menjual minuman soda (Haha..contoh yg ekstrim!). Contoh lain, Logo Google yang simple dengan tampilan huruf warna-warni (mungkin) melambangkan kehebatan si mesin pencari dalam menemukan setiap ruang dari blog maupun website yang berbeda-beda, secara maksud dan tujuan (mungkin) logo ini berhasil mencapai target, namun kalau boleh jujur..menurut saya logo google gak ada indah-indahnya! :D

Ada beberapa hal penting yang harus dimengerti dengan baik oleh logo designer dalam proses pembuatan sebuah logo.

Pertama : Logo diperuntukkan untuk dilihat sekilas. Artinya, orang tidak akan membuang waktu mereka untuk dapat memahami sebuah logo. Oleh karena itu, buatlah logo dengan typografi (teks) dan image yang mudah dibaca dan dikenali dengan maksud agar pesan tersampaikan dengan baik.

kedua : Pertimbangkan dengan baik warna logo anda. Posisikan kepada beberapa warna background yang berbeda, dan lihat apakah logo anda tsb cukup fleksibel untuk diterapkan. Sebuah logo akan digunakan dalam jangka waktu panjang dan akan berhubungan dengan berbagai media periklanan. ketika suatu saat logo tersebut harus ditampilkan dalam hitam dan putih, bagaimana tampilannya? Selain itu, padukan warna yang mudah dikenali dan eye catching pada logo. dan bayangkan, bagaimana bila logo tersebut berbaur bersama ratusan logo yang lain di rak sopermarket misalnya, apakah logo tersebut cukup menarik perhatian atau tidak. apabila tidak, maka segera buat logo baru! :D

ketiga : Seperti yg telah dijelaskan diatas, sebuah Logo haruslah cocok dengan perusahaan pemiliknya. Berikan font yang lansing atau kurus untuk perusahaan yang menjual obat diet (misal!) :D

keempat : Ada baiknya sebuah logo menggambarkan keindahan dan enak dipandang mata. Berikan kesan profesional dalam setiap lekukannya. Jangan sampai itu logo dikira buatan anak TK. (Seperti logo Gudang suram diatas!) :D

sebagai tambahan, berikut daftar situs untuk menambah inspirasi dalam pembuatan logo, seringlah-seringlah berkunjung kesana dan berlatih berulang kali untuk menambah skill dibidang logo design :














yups, gimana? minat buat jadi Logo maker atau Logo designer?? yaaa..minimal Logo Designer untuk blog sendiri.. :D

Desain Grafis dan Pernikahan

Menurut saya, ada 3 siklus penting dalam kehidupan manusia (ini adalah pandangan subjektif berdasarkan pada mayoritas manusia), yang pertama adalah KELAHIRAN, kedua adalah PERKAWINAN dan terakhir adalah KEMATIAN. ke tiga hal di atas merupakan hal penting dalam hidup, Hampir semua kebudayaan yang ada di bumi ini mensakralkan ke tiga siklus tersebut. Upacara-upacara dari yang klenik sampai yang kontemporer dilakukan untuk ketiga hal di atas. Kali ini, desainstudio akan membahas yang No.2 (mumpung masih bulan syawal..hehehe).


Percaya atau tidak, Desain Grafis tidak melulu berbicara masalah branding, logo, tipografi, web atapun gambar. Desain grafis ternyata juga berhubungan erat dengan pernikahan..yaa! Jika kamu belum menikah, paling tidak suatu saat nanti kamu perlu seorang desain grafis untuk mendesain undangan pernikahan kamu bukan? Lantas apa-apa saja kaitan antara desain grafis dan pernikahan? Hmm, simak beberapa poin berikut ini :


1. Kesamaan

Pekerjaan seorang desainer grafis tidak jauh berbeda dengan mempersiapkan sebuah pernikahan. Ada beberapa proses yang cukup mirip antara desain grafis dengan persiapan pernikahan Jika kamu seorang desainer grafis dan melalui proses-proses ini, pastinya nanti tidak canggung ketika menghadapi proses persiapan pernikahan :D. Menurut graphicdesignblog.org, kemiripan tersebut antara lain meliputi :

- Anggaran (budget)
- Berpacu dengan Waktu
- Segalanya harus berjalan dengan sempurna
- Diperlukan adanya kontrak/perjanjian
- Diperlukan adanya latihan
- Banyak keputusan yang harus diambil
- Proses yang dilalui bisa bikin stress



Untuk ulasan selengkapnya, kamu bisa lihat disini :
Graphic Design Project is like a Wedding – Believe it or Not??


2. Dokumentasi Visual

Fotografi dan desain grafis adalah dua profesi yang setali tiga uang, sama-sama menjual ide dengan polesan estetika untuk memunculkan daya tarik. Proses yang dilalui dalam berkarya juga mirip, sama-sama membutuhkan pengetahuan dan tehnik yang diasah terus menerus, serta berdasarkan pengalaman dan nilai estetis yang tumbuh berdasarkan proses yang telah dicapai. The Uppermost adalah salah satu (tim) fotografer profesional yang khusus menangani Wedding Photography. Mereka menjual ide, tehnik, dan komposisi yang menarik dengan sentuhan nilai artistik yang tidak biasa. Kamu bisa melihat karya-karya Wedding Photography dari The Uppermost disini : www.theuppermost.com





3. Weeding Invitation

Undangan pernikahan pada dasarnya hanya berisikan informasi tentang tempat dan tanggal pernikahan (namanya juga undangan :D). namun seiring waktu, undangan pernikahan lebih dari sekedar "mengundang", ia bercerita banyak tentang hal-hal estetis dari sebuah pernikahan. ia seperti branding sebuah perusahaan, bahkan dapat menunjukkan kelas-kelas sosial. berikut beberapa desain undangan pernikahan cantik dari berbagai desainer grafis .




Tentu masih banyak lagi peran desain grafis dalam sebuah acara pernikahan, apalagi karena itu adalah momen sakral yang dilakukan paling tidak sekali seumur hidup. Tentu setiap pasangan ingin momen tersebut menjadi momen yang terbaik. Bagaimana pendapat kamu tentang hal ini? :)

Desain Grafis untuk Perubahan

Seberapa berpengaruhnya karya kamu bagi orang lain? Pernahkah kamu bermimpi jika suatu saat karya kamu akan menjadi inspirasi bagi orang lain bahkan penduduk dunia? Never stop Dreaming!. Dunia desain grafis telah berkembang demikian pesat seiring kemajuan peradaban manusia itu sendiri. Dari mulai menggambar pesan di atas media dinding gua (hieroglif) berlanjut di atas kulit, kertas lontar, bangunan (arsitektur) seperti sebuah candi, hingga sekarang dalam media digital. Semua berfungsi untuk menyampaikan “sesuatu” kepada orang lain.



Desain grafis menggunakan media visual untuk menyampaikan suatu pesan. Dari mulai dunia komersil seperti brand identity dan advertising, sampai dengan kampanye presiden hingga propaganda perang. Mungkin inilah sebabnya mengapa salah seorang kontributor di desainstudio percaya jika dunia desain grafis berperan merubah dunia. :) Tergantung ke arah mana kamu mau berkiblat : positif atau negatif.

Mungkin ini kiranya yang membuat Victor Papanek berkata dalam bukunya "Design for The Real World", peran desain beserta desainernya diupayakan menjadi pioner dalam mengatasi perubahan dan pembaruan.

Berikut adalah beberapa situs yang menggunakan desain grafis sebagai media menyampaikan pesan menghimbau dan mengajak kita untuk menjaga lingkungan.


1) Greenpeace

Greenpeace telah lama menjadi sebuah organisasi nirlaba yang mengkampanyekan penyelematan lingkungan. Mereka kerap mengadakan lomba-lomba desain poster untuk tujuan tersebut. Bagaimana sebuah tampilan visual bisa mewakili pesan perubahan?

check it out!







2) FuturArc

Arsitektur telah menjadi media yang sangat powerfull dalam mengkomunikasikan pesan dalam wujud nyata. Tahun 2011 ini futurarc mengadakan kontes desain bertema Green Issue bagi para perancang bangunan atau landscape bertema lingkungan hidup. Tebak siapa pemenang pertamanya? They come from Indonesia!


3) zodshopdesign

Zodshopdesign, merupakan situs yang khusus mendesain segala bentuk print design mulai dari brosur, leaflet, logo hingga kemasan produk dengan tema lingkungan. Daripada bersaing di tengah komersialisme desain, mereka berani memposisikan diri dengan tag line Environmentally sensitive design.



"The only important thing about design is how it relates to people."
Victor Papanek

Sangat disayangkan jika desain grafis, dengan segala potensinya untuk menghimbau khalayak ramai digunakan hanya sebatas alat untuk menunjang materi dan pemenuhan kebutuhan hidup. Seorang desainer grafis, sudah selayaknya berfikir untuk lebih memfungsikan karyanya bagi kepentingan orang banyak. Tidak masalah medianya apa, yang penting itu berfungsi bukan?

Bagaimana Kriteria Seorang Desainer Grafis Hebat?

Sebagai desainer grafis, kita patut bersyukur dengan kehadiran internet. Setiap harinya kita disuguhi oleh karya-karya yang outstanding dan menakjubkan. Entah itu ilustrasi, branding, advertising, digital imaging, kartun, dsb. Dunia ini sungguh dipenuhi oleh orang-orang yang bertalenta dan jenius. Terkadang, saya bertanya-tanya sendiri, "Bagaimana kriteria seorang desainer grafis hebat?". Saya pun mencoba mengurai beberapa poin yang membuat seorang desainer grafis itu menjadi luar biasa. Dan (sekali lagi) ini hanyalah pandangan personal, so, kamu juga boleh share apa poin yang menurut kamu bisa bikin seorang desainer grafis menjadi hebat.

Yeah
, ini dia 5 poin yang menurut saya sangat berperan dalam menentukan kualitas seorang desainer grafis :


1) Kreatifitas


Ini paling penting! Karena
desain grafis bersifat dinamis, bergerak dan mengikuti perubahan. Taste setiap orang juga bergerak, persepsi dan daya visual juga mungkin berubah, dan desainer grafis siap ataupun tidak dituntut untuk mampu mengimbangi dan mengikuti pergerakannya. Dan itu tidak mungkin terjadi kalau ide dan pemikiran tidak diimprove sedemikian rupa menjadi some thing that really out of the box. Outputnya dikenal secara massal sebagai kreatifitas dan pelakunya dikenal sebagai insan kreatif.

Permasalahannya saudara-saudari, kreatifitas itu bukanlah bakat, tapi sesuatu yang perlu digali dengan usaha keras dan tanpa henti. Kreatifitas membutuhkan pengorbanan dan kemauan keras. Kreatifitas murni pilihan bagi setiap orang. Kembali kepada masing-masing, mau memilih untuk jadi kreatif atau tidak. Kalau mau, maka bersiaplah bekerja keras dan banting tulang. Itu.. #menirumarioteguh


2) Pemahaman Teoritis dan Aplikasi


Untuk menjadi seorang desainer grafis hebat, maka seseorang perlu menguasai dasar keilmuannya, sejarahnya, teori-teorinya, serta standar dan filosofinya. Ini tidak habis dipelajari dua-tiga bulan (kecuali kamu seorang jenius seperti
Einstein), melainkan bertahun-tahun dengan metode learn and practice. Jadi jika kamu adalah penulis buku "Mahir desain grafis dengan Adobe Illustrator dalam satu bulan", sebaiknya tarik itu buku dari peredaran, karena itu bohong!

Selain pemahaman dalam bidang teoritis, seorang desainer grafis juga harus mampu mengaplikasikan ilmunya kedalam karya nyata. Artinya, setelah basic keilmuan dikuasai, ide sudah oke, dan konsep sudah matang, maka saatnya memvisualisasikannya dalam bentuk karya. Aspek visualisasi ini bisa beragam. Bisa dengan sketsa/menggambar, Bisa juga dengan menggunakan aplikasi grafis seperti Adobe Illustrator dan Photoshop. Tergantung dari kebutuhan dan kondisi pekerjaan.


3) Passion & Improvement


Nah
, ini juga cukup vital : Passion (semangat, kemauan -red). Passion bikin desainer enjoy dengan pekerjaan. Passion juga yang bikin desainer mau belajar mengasah kemampuan. Passion membuat kita menjadi terus penasaran sampai akhirnya (sadar ataupun tidak) kita dibawa ke arah perbaikan (improvement) dalam rangka menjadi desainer grafis yang lebih baik setiap harinya.


4) Communication Skill and Self Management


Komunikasi (verbal & visual) adalah faktor penting yang membedakan desainer pro dengan amatiran. Melalui karya, desainer grafis berkomunikasi (
visually) dengan audiens. Desainer grafis juga dituntut mampu berkomunikasi (verbally) dengan klien. Baik itu ketika deal-dealan project, maupun ketika mempertanggung-jawabkan hasil karyanya.

Selain itu, desainer grafis hebat juga harus mampu memanage dirinya dengan baik. Manajemen diri dalam hal ini adalah tentang bagaimana seorang desainer grafis mempersiapkan dirinya sebagai profesional yang fokus, disiplin, dan bertanggung jawab pada setiap project yang dikerjakan.


5) Positive Attitude


And last, attitude save the world!
Terserah mau pakai hukum Tuhan, hukum alam, atau hukum rimba sekalipun, seseorang dengan sikap (attitude) yang baik pasti akan menuai hasil yang baik. Sikap disini bisa berarti prilaku, cara pandang, idealisme, dan interaksi sosial. Membangun sikap positif ini bisa dimulai dengan melakukan hal-hal yang sederhana seperti : jujur, terbuka, memahami perbedaan, dsb.


Yeah, that's it! Seperti telah disampaikan diatas, itu cuma pandangan personal saya sebagai makhluk lemah dan tidak berdaya. :D Jadi kamu bebas jika punya pendapat sendiri atau hanya sekedar ingin menambahkan.


Jadi, bagaimana kriteria seorang desainer grafis hebat menurut kamu? Silahkan berbagi melalui komentar!

17.1.13

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis Sebagaimana sebuah profesi pada umumnya, desain grafis juga punya resiko-resiko tersendiri yang harus dihadapi oleh orang yang menggelutinya. "Wow, resiko!? Bukankah jadi desainer grafis itu menyenangkan? penuh dengan kreatifitas dan mungkin akan dianggap cool oleh sebagian orang". Kelihatannya seperti itu. Namun faktanya, ada beberapa poin penting terkait resiko yang harus diperhitungkan desainer grafis. 5 alasan utama kenapa menjadi desainer grafis itu bisa jadi cukup menyebalkan.




1) Adaptasi dengan Segala Hal

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Desainer grafis dituntut untuk beradaptasi secara maksimal untuk setiap projek yang digelutinya. Contoh, seorang free style artist tidak bisa menjadi desainer grafis, dia hanya cocok menjadi seniman. Kenapa? karna dia terlalu fanatik dengan gaya visualnya sendiri, sehingga ketika dihadapkan kepada projek-projek yang sifatnya corporate dengan tuntutan elegan dan clean dalam desain, dia kesulitan melakukannya. Desainer grafis ibarat seekor bunglon, yang harus bisa menyesuaikan diri dengan baik dalam setiap projek. Oleh karena itu, pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang pun dibutuhkan. Hal ini yang membuat kenapa desain grafis merupakan profesi yang sangat berat (setidaknya menurut saya).


2) Keterampilan Teknis, Estetika dan..Masih banyak lagi..!!!
5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Cukupkah menguasai software grafis seperti photoshop, illustrator dan corelDRAW saja untuk jadi desainer grafis?? Tentu saja tidak! selain keterampilan teknis seperti penguasaan software, desainer grafis juga dituntut untuk punya nilai estetika yang tinggi dan kemampuan mengaplikasikannya secara visual. Belum lagi harus menguasai prinsip-prinsip dasar desain dan dasar penggunaan elemen-elemen grafis didalamnya. Untuk kali ini, kita kesampingkan dulu typografi, warna, dan lain-lain agar tidak terlalu banyak. Tapi oooh...ternyata desainer grafis juga harus pintar berkomunikasi dan punya kemampuan marketing minimal tingkat dasar. Dan jangan lupa, kemampuan menggambar manual menjadi poin tambahan. Oh no! Sebanyak inikah yang harus dipelajari untuk menjadi desainer grafis!?


3) Hidup Terasa Lebih Berat

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Hidup terasa lebih berat ketika menjadi desainer grafis! Kenapa!? Lihat saja, ketika anda sedang jalan-jalan sore dan melihat berbagai media advertising di kanan dan kiri dengan tampilan visual yang menyakitkan mata, kebanyakan kita akan menggerutu. "Oh shit! Jelek sekali!!!". Contoh lain, ketika beli DVD, lagi-lagi kita memaki karna font yang digunakan dalam cover DVD sangat norak dan ketinggalan jaman, lagi-lagi kita mengeluh dan menggerutu. Menimbang-nimbang seandainya font yang digunakan adalah font ini—font itu, pasti lebih baik. Dan coba bayangkan, mungkinkah sehari saja kita tidak melihat media-media grafis seperti contoh-contoh diatas!? Itulah sebabnya kenapa menjadi desainer grafis seperti mendadak bisa melihat hantu, sampah visual dimana-mana!


4) No Time to Rest!

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Ketika orang-orang dengan profesi lain bersantai dan bergembira ketika liburan, desainer grafis malah sibuk berpikir hal-hal kreatif dan menemukan ide-ide baru. Hal ini memang sama sekali bukan keharusan, desainer grafis tidak pernah dipaksa untuk berpikir saat tidak sedang bekerja. Tapi ketika kamu terjun lebih jauh kedalam bidang ini, kamu akan mendapatkan bahwa berpikir kreatif dan menemukan ide-ide baru adalah suatu kebutuhan dan tidak bisa dielakkan. Seperti candu, otak akan dipaksa terus menuai hasil, diajak bekerja keras dan selalu butuh asupan informasi inovatif untuk dikonsumsi. Ohh..bukan kah itu berat!? Tidak ada waktu untuk beristirahat!!!


5) Who Care!?

5 Alasan Sebaiknya Kamu Berhenti Menjadi Desainer Grafis

Orang-orang diluar sana tidak begitu tertarik dengan desain grafis. Desain grafis bukan suatu profesi yang cukup populer di Indonesia. Bayangkan! Begitu banyak yang harus dipelajari desainer grafis tapi tidak ada satu orang pun yang peduli. Hal ini bisa dilihat dari apresiasi masyarakat yang sangat rendah terhadap desain grafis. Mereka melihat desain grafis adalah profesi sambilan para siswa dan mahasiswa yang iseng dengan software-software grafis yang terinstall di komputer masing-masing.


Well, bagaimana dengan kamu!? setujukah dengan pernyataan-pernyataan diatas? Masihkah ingin terus jadi desainer grafis!?

16.1.13

Masih Mau Jadi Desainer!?

Desain grafis bukan profesi yang lazim di masyarakat kita. Kebanyakan orang akan mengernyitkan dahi dan menjadi bingung ketika mendengar kata "desain grafis". Sebagian lagi akan menganggap aneh para pelakunya, biasanya cenderung eksperimentalis dan suka kerja malam tak ubahnya seorang satpam. Sehingga wajar ketika apresiasi terhadap output para desainer grafis pun merosot tajam dari hari ke hari. Beruntung, di tengah masalah itu semua, jumlah peminat yang ingin terjun di bidang ini tidak pernah surut bahkan semakin banyak.

Artikel ini mengulas beberapa hal yang harus kamu waspadai sebelum melangkah lebih jauh untuk menggeluti bidang desain grafis. Semoga bermanfaat untuk diambil pelajarannya.


5 hal yang harus diwaspadai desainer grafis :

1) Umur Pendek



Apakah karena kurangnya waktu atau terlalu asyik dalam mendesain. Beberapa desainer masih di depan monitornya saat orang lain sudah terlelap. Tampaknya anjuran dokter untuk istirahat +/- delapan jam perhari tidak berlaku dalam desain grafis. Walaupun time schedule sudah di atur, tapi tetap.. browsing internet untuk mencari inspirasi sampai mengejar deadline dari klien telah menjadi kebiasaan yang sukar untuk di perbaiki. Desainer juga manusia, bukan Batman yang meski bergadang semalaman tapi tetap fit pagi harinya. so, jika kamu mau tetap mendesain sampai tua..istirahat yang cukup adalah pilihan yang bijaksana.


2) Jomblo Forever



Apakah cuma desainer grafis yang mengalami hal ini? tidak juga! namun desainer cukup berpeluang untuk mendapat gelar ini. Disaat cewek-cewek histeris sama boyband, musisi dan olahragawan, seorang desainer malah tenggelam dalam dunianya sendiri. Lagipula, desain grafis merupakan jenis pekerjaan yang banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan (indoor), sehingga terkesan eksklusif, menyendiri, dan kesepian..T_T. Maka kalau sudah begini, intensitas para desainer untuk bisa berinteraksi dan di ingat oleh lawan jenisnya menjadi berkurang.


3) Emosi yang Labil



Pelanggan adalah raja, kutipan jadul ini masih berlaku di satu sisi. Memahami pemikiran klien (baca : Ragam tipe klien dalam desain grafis) susah-susah gampang memang. Seorang desainer grafis juga dituntut paham marketing dan seni berinteraksi serta berkomunikasi dengan orang lain. Pada kondisi tertentu, seorang desainer juga dituntut untuk pintar-pintar dalam mengelola emosi dan suasana hati. Florence Litteur dalam bukunya "Personality Plus" mengelompokkan emosi seseorang kepada empat bagian : Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Phlegmatis. Menurut saya, menjadi seorang desainer harus dapat menyeimbangkan ke empat emosi tersebut.


4) Kantong kering



Masih rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya desain grafis akan berdampak langsung terhadap cash flow seorang desainer. Sebuah logo yang melalui proses panjang mulai dari riset, sketsa, sampai dengan eksekusi akhir misalnya, sama sekali tidak terlihat oleh klien, Kebanyakan klien hanya mengukur pada tingkat kerumitan sebuah karya atau hasil jadi dan dengan enteng bilang "kalau sederhana begini, anak saya yang masih TK juga bisa!".. Mereka tidak bisa melihat sisi lain dari semua itu: Sebuah ide! dan proses yang dilalui untuk mencapai ide tersebut.. Yup, menjadi desainer berarti menjadi penjaja ide. Pertanyaannya : berapa harga sebuah ide!?


5) Berpotensi Sombong


Pernah merasa kalau desain kita lebih bagus daripada desain orang lain!? hehe..Saya pribadi pernah merasakannya. Sombong itu terkadang perlu. Sombong berarti mengakui kalau kita telah mencapai apa yang orang lain tidak bisa capai, itu sangat mewakili eksistensi kita sebagai manusia. Tapi bagaimanapun sombong memang sikap yang buruk. Hal terbaik adalah bagaimana kita mengelola sikap berbangga hati sehingga menghasilkan output yang lebih baik, seperti motivasi untuk terus berkompetisi misalnya.


Bagaimana menurut kamu?

12.1.13

5 Alasan untuk Kencan dengan Desainer Grafis


Bekerja di depan monitor dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk browsing informasi dan inspirasi menarik di internet memang membuat desainer grafis layaknya seorang geek. Kondisi pekerjaan juga membuat desainer grafis seperti kehilangan kontak dengan lingkungan sekitarnya. Bahkan yang terparah, kebanyakan mungkin kesulitan untuk menjalin hubungan intim dengan lawan jenis. Hanya beberapa saja yang beruntung dikarunai bakat 'play boy' sebelum menjadi desainer grafis. Tapi terlepas dari itu, desainer grafis juga punya beberapa keunggulan yang membuat mereka pantas dijadikan calon pasangan idaman. Check it out..


1) Problem Solver

Pekerjaan sejatinya telah melatih desainer grafis sebagai problem solver (penyelesai masalah). Mereka mengurai, menganalisa, serta melakukan riset, kemudian mencari solusi untuk mentransformasikan ide dan informasi menjadi sebuah pesan visual yang mudah dimengerti.


Desainer grafis terbiasa melakukan itu dalam setiap pekerjaan, dan hal yang sama juga akan dilakukan mereka dalam membangun sebuah hubungan. Enak bukan? Jika kamu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang sering punya masalah dengan pasangan, desainer grafis adalah calon ideal yang patut dipertimbangkan untuk diajak berkencan.


2) Pendengar yang Baik

Desainer grafis bukan hanya piawai mencreate dan memanipulasi bentuk visual, tapi mereka juga handal sebagai pendengar yang baik. Tentu saja tidak hanya sekedar mendengar, tapi juga memahami serta mendalami maksud dan tujuan klien agar output yang dihasilkannya nanti juga sesuai dengan harapan si klien.


Sekarang bayangkan jika si klien adalah kamu. Maka apapun yang kamu keluh-kesahkan akan didengarkan dengan sabar dan dipahami dengan baik oleh si desainer grafis ini. Hasilnya bisa ditebak, dia akan memposisikan diri serta sikapnya sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Kalau sudah begini, maka hubungan yang harmonis-pun tidak akan bisa dielakkan.


3) Kreatif dan Inovatif

Pekerjaan menuntut desainer grafis bergerak cepat mengikuti perkembangan teknologi, industri, peradaban, serta cara berfikir yang terus berkembang dari masa ke masa. Itu sebabnya mereka identik dengan inovasi-inovasi yang sarat dengan kreatifitas. Tidak seperti pegawai kantoran yang terus menerus mengerjakan hal yang sama setiap hari sampai pensiun.


Dalam membina sebuah hubungan, hal ini bisa diaplikasikan pada konteks yang sederhana, seperti mencari tempat kencan atau sekedar memberi kado ulang tahun misalnya. Jangan kaget kalau suatu saat, kamu akan berkencan di kuburan, tempat sabung ayam, atau kantor polisi. Kamu akan dibuat merasakan hal baru yang beda dari yang lain, karena style-nya kebanyakan desainer grafis memang sudah begitu.


4) Estetis dan Fungsional


Desainer grafis selalu melihat semua hal berdasarkan dua faktor : Estetika dan Fungsi. Ini adalah rumus sederhana untuk membuat kehidupan kamu menjadi seimbang. Sebagai contoh, ketika banyak orang menghadiahi pasangannya kalung emas dan cincin permata (yang cenderung kepada estetika tapi tidak bagus secara fungsi), desainer grafis mungkin hanya menghadiahi kamu benda-benda yang sejatinya memang kamu butuhkan. Pertimbangan-pertimbangan seperti ini akan membuat kamu jauh dari gaya hidup konsumtif sehingga kamu terbiasa untuk menjalani hidup secara seimbang dan sederhana.


5) To the point

Setiap karya desain grafis hendaknya efektif dan mampu menyampaikan pesan dan informasi secara langsung, bahasa kerennya to the point. Desainer grafis tahu betul kerugian yang akan didapat jika terlalu banyak berbasa-basi. Mereka terbiasa spontan dan bersikap apa adanya. Hal yang sama kemungkin juga akan dipraktekkan dalam kehidupan pribadinya, termasuk kepada pasangannya.


Jadi, jika dia pikir penampilan atau gaya kamu norak maka dia akan mengatakannya secara langsung. Jika belum terbiasa, mungkin kamu akan shock, stress, dan gantung diri. :D Tapi percayalah, sikap seperti ini sangat baik dan tidak membuang-buang waktu. Selain itu, kamu juga akan cepat menyadari kebenaran tanpa terlalu lama tertipu oleh apresiasi palsu dan basa-basi dunia yang berlebihan.


Well done!

Itu hanya opini saya berdasarkan pandangan personal, kamu berhak 100 % untuk tidak setuju. Silahkan berbagi pemikiran melalui kolom komentar! :)

5 Pemahaman Keliru tentang Desain Grafis

Sebagai pihak yang berkecimpung dalam desain grafis, tentu saja kita berharap agar desain grafis mendapat pengakuan dari masyarakat luas sebagai suatu terapan ilmu, skill/keahlian, dan juga profesi. Namun untuk mencapai itu semua tentu tidak lah mudah. Masyarakat awam pada umumnya tidak tau apa dan bagaimana itu desain grafis. Perlu usaha keras untuk memberikan pemahaman terus menerus agar industri ini berjalan sebagaimana semestinya.
thumbnail image

Berikut adalah beberapa pemahaman keliru tentang desain grafis :

1) Desain itu Komputer

Ini adalah pemahaman yang paling umum dari masyarakat awam tentang desain grafis. Mereka berfikir bahwa desain grafis hanya sekedar menggunakan software komputer untuk menciptakan gambar-gambar indah nan sedap dipandang. Faktanya tidak begitu! Bisa Photoshop, Illustrator, dan CorelDRAW tidak lantas berarti bisa desain. Desain grafis adalah pekerjaan yang membutuhkan proses seperti pencarian ide dan merumuskan konsep untuk memberi solusi komunikasi visual. Penguasaan software yang berfungsi untuk mengeksekusi sebuah karya hanyalah sebagian dari beberapa metode dan proses dalam pembuatan sebuah karya.

2) Desainer itu Pintar Menggambar

Bahkan di zaman sekarang, dimana efek-efek yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa dibuat dalam sekejap mata dengan kemampuan software grafis, masyarakat awam masih berfikir bahwa desain itu kerjaannya menggambar. Memang, pada dasarnya kemampuan menggambar adalah salah satu keahlian visual yang sangat berguna bagi desainer. Tapi tidak lantas berarti menjadi desainer harus pintar menggambar. Desain grafis adalah ilmu komunikasi visual. Apapun yang bisa kamu lakukan untuk mengkomunikasikan sebuah pesan visual secara efektif, maka kamu telah berhasil membuat suatu karya desain dengan baik.

3) Desainer itu Penuh Kreatifitas

Jika bicara soal desain grafis, orang akan cenderung mengidentikkannya dengan kreatifitas. Tapi percaya atau tidak, semua orang pada dasarnya adalah kreatif, namun faktor-faktor seperti lingkungan dan kepribadian mengikis kreatifitas untuk tumbuh. Desainer grafis sama halnya dengan kebanyakan orang, tuntutan dan kecintaan pada profesilah yang membuatnya berproses dalam ruang lingkup kreatifitas. Mencoba dan terus mencoba hingga menemukan hal baru.

4) Desain Grafis itu Seni, Seni itu Desain Grafis

Orang awam seringkali memahami desain grafis secara estetis, dan bukan fungsi. Ini pula sebabnya kenapa desain grafis dan seni visual itu dianggap sama. Kenyataannya tidak begitu! Desain grafis dan seni visual adalah dua hal yang berbeda. Desain grafis adalah seni terapan yang berfokus kepada fungsi penyampaian informasi, estetika hanyalah sebagian teknis yang digunakan untuk mencapai fungsi tersebut. Sedangkan seni visual itu bersifat bebas, individualis, dan cenderung ekspresif. Tidak ada tujuan apapun yang ditargetkan agar audiens bergerak melakukan sesuatu.

5) Desain Grafis itu Sesuai Selera

Satu lagi pemahaman keliru oleh masyarakat awam tentang desain grafis, selera! Baik tidaknya sebuah desain tidak bisa disandarkan kepada selera dan pertimbangan estetis semata. Desain grafis mengandung strategi komunikasi yang bertujuan untuk dimengerti dan bukan untuk mendapat apresiasi. Desain grafis ditujukan agar audiens tergerak untuk melakukan apa yang diinstruksikan dalam sebuah karya baik secara langsung maupun tidak, dan bukan membiarkan audiens berdiri lama di depan karya sambil berkata : "Oh, indahnya.."